Guru Didorong Kuasai Penyusunan Soal HOTS, Tim PKM Unindra Gelar Workshop di Jakarta
Jakarta (11/8) — Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan asesmen di sekolah terus dilakukan melalui penguatan kompetensi guru. Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa Workshop Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) sebagai Upaya Peningkatan Hasil Tes Kompetensi Akademik yang dilaksanakan pada 7 Juli 2026.
Kegiatan yang mengusung skema pendanaan Pemberdayaan Berbasis Masyarakat tersebut melibatkan sekitar 40 guru dari SMA PGRI 24 Jakarta dan SMP PGRI 30 Jakarta.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim PKM yang terdiri atas Indah Mayang Purnama, M.Pd., Dr. Huri Suhendri, M.Pd., dan Ditta Puti Sarasvati, M.Ed.
Workshop dirancang tidak hanya untuk memberikan pemahaman konseptual mengenai HOTS, tetapi juga memberikan pengalaman langsung kepada guru dalam menyusun, mendiskusikan, dan mereviu soal yang mendorong kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik.
Dari Konsep ke Praktik
Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh penguatan mengenai karakteristik soal HOTS serta bagaimana menyusun soal yang tidak sekadar mengukur kemampuan mengingat, tetapi mendorong peserta didik untuk menganalisis, mengevaluasi, menalar, dan memecahkan permasalahan.
Peserta juga terlibat dalam kegiatan diskusi kelompok dan praktik penyusunan soal. Melalui proses tersebut, guru tidak hanya menerima materi, tetapi secara langsung mencoba mengembangkan soal sesuai dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah masing-masing.
Suasana kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta terlihat berdiskusi dalam kelompok, menggunakan perangkat laptop, mengembangkan ide soal, serta memperoleh pendampingan dalam proses penyusunannya.
Perbedaan Latar Belakang Menjadi Tantangan Sekaligus Peluang
Salah satu tantangan dalam pelaksanaan workshop adalah adanya perbedaan latar belakang keilmuan peserta. Guru yang mengikuti kegiatan berasal dari bidang keilmuan dan jenjang pendidikan yang beragam sehingga kebutuhan terhadap contoh dan bentuk soal juga berbeda.
Kondisi tersebut kemudian direspons melalui pendekatan penyusunan soal yang terintegrasi antara satu konteks dengan konteks lainnya. Pendekatan ini diarahkan agar soal tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik dalam satu bidang, tetapi juga dapat menjadi sarana pembiasaan peserta didik dalam memahami informasi, membaca situasi, menggunakan data, serta melakukan penalaran.
Dengan pendekatan tersebut, pengembangan soal HOTS diarahkan untuk sekaligus memperkuat literasi dan numerasi siswa.
Hal ini menjadi penting karena kemampuan berpikir tingkat tinggi membutuhkan fondasi pemahaman yang baik. Peserta didik perlu memiliki kemampuan membaca dan memahami informasi, mengolah data, melakukan penalaran, serta menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan permasalahan sebelum mampu menghadapi soal-soal yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi secara optimal.
HOTS Tidak Berdiri Sendiri
Kegiatan ini juga menghasilkan pemikiran bahwa penguatan HOTS di sekolah tidak dapat dilepaskan dari penguatan kemampuan dasar peserta didik.
Soal HOTS yang baik bukan sekadar soal yang dibuat sulit. Soal tersebut perlu memberikan stimulus yang bermakna dan mendorong peserta didik untuk menggunakan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan permasalahan.
Karena itu, pengembangan asesmen perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan dengan memperhatikan kemampuan literasi dan numerasi sebagai fondasi penting dalam proses pembelajaran.
Melalui workshop ini, guru diharapkan dapat mengembangkan budaya asesmen yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian nilai, tetapi juga pada kemampuan peserta didik dalam memahami, menalar, menginterpretasikan informasi, dan menyelesaikan masalah.
Berlanjut pada Pelatihan Literasi dan Numerasi
Kegiatan PKM tidak berhenti pada workshop penyusunan soal HOTS. Tim berencana melanjutkan kegiatan dengan memberikan penguatan mengenai literasi dan numerasi.
Pelatihan lanjutan tersebut dipandang penting karena kemampuan literasi dan numerasi merupakan salah satu dasar yang perlu dikuasai peserta didik sebelum mampu menghadapi permasalahan yang menuntut kemampuan berpikir tingkat tinggi.
Selain kegiatan pelatihan lanjutan, tim juga akan melakukan penyempurnaan produk soal dan finalisasi artikel hasil kegiatan. Artikel hasil PKM ditargetkan dapat dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 1 hingga SINTA 6.
Mendorong Praktik Baik Asesmen di Sekolah
Pelaksanaan kegiatan PKM hingga saat ini telah mencapai sekitar 88 persen. Selain kegiatan workshop yang telah terlaksana, tim juga telah menyusun draft artikel sebagai bagian dari luaran kegiatan.
Melalui kegiatan tersebut, penguatan kompetensi guru diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam praktik pembelajaran dan asesmen di sekolah.
Pada akhirnya, penyusunan soal HOTS diharapkan bukan sekadar menjadi tuntutan dalam evaluasi pembelajaran, melainkan menjadi bagian dari upaya membangun kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, memahami informasi, menggunakan penalaran, dan memecahkan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Posting Komentar