RUMAH KAWAT BERBASIS INTERNET OF THINGS (IOT): INOVASI AKLIMATISASI TANAMAN KULTUR JARINGAN UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI PETANI CIBADUNG
![]() |
| Pendampingan tim PkM kepada mitra dalam pengoperasian dan pengelolaan Rumah Kawat Berbasis IoT |
BOGOR (22/8) — Inovasi teknologi Internet of Things (IoT) mulai diterapkan untuk mendukung produksi tanaman hasil kultur jaringan di Kelompok Tani Giat Bakti Lestari, Desa Cibadung, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Melalui pembangunan Rumah Kawat Modern Berbasis IoT, proses aklimatisasi tanaman kini dapat dilakukan dengan lingkungan yang lebih terkontrol dan pemantauan berbasis data.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Indraprasta PGRI (Unindra) yang memperoleh hibah Direktorat Riset, Pengembangan, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat tahun anggaran 2026.
Tim PkM terdiri atas Prof. Dr. Fitri Damayanti, M.Si., Dr. Acep Musliman, S.T., M.Si., Dr. Tri Anita, S.E., M.Pd., Nazalla Zazkya, dan Hasiyatul Aini.
Menjawab Persoalan Aklimatisasi
Ketua Kelompok Tani Giat Bakti Lestari, Asep Yanto, bersama anggotanya sebelumnya telah memiliki laboratorium sederhana untuk perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan. Fasilitas tersebut diperoleh melalui hibah DRPM Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2024.
Namun, keberhasilan menghasilkan planlet dari laboratorium belum otomatis menjamin tanaman dapat tumbuh dengan baik di lingkungan luar. Tanaman hasil kultur jaringan harus melalui proses aklimatisasi, yakni penyesuaian tanaman dari kondisi laboratorium in vitro menuju lingkungan luar (ex vitro).
Tahap tersebut menjadi salah satu titik kritis karena tanaman harus beradaptasi dengan perubahan suhu, kelembapan, air, cahaya, dan kondisi media tanam.
Sebelum program berjalan, mitra masih mengandalkan rumah paranet dengan konstruksi bambu. Pengelolaan lingkungan sangat dipengaruhi kondisi cuaca sehingga proses aklimatisasi belum optimal.
Melalui program PkM, tim Unindra kemudian membangun Rumah Kawat Berbasis IoT yang dilengkapi paranet, plastik UV, meja tanam, tangki air, pompa, sistem penyiraman serta sensor lingkungan.
Sensor tersebut memungkinkan mitra memantau sejumlah parameter, seperti suhu, kelembapan udara dan kelembapan media tanam. Data yang diperoleh dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan tindakan pemeliharaan tanaman.
Produksi Aklimatisasi Meningkat 80,65 Persen
Dampak penerapan Rumah Kawat Berbasis IoT terlihat pada keberhasilan tanaman melewati proses aklimatisasi.
Data pengukuran terhadap 22 anggota kelompok tani menunjukkan capaian produksi meningkat dari 63,57 persen menjadi 88,87 persen.
Sementara itu, jumlah tanaman yang berhasil melalui proses aklimatisasi meningkat dari 62 tanaman sebelum penerapan program menjadi 112 tanaman setelah penerapan, atau mengalami peningkatan sebesar 80,65 persen.
Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa fasilitas aklimatisasi yang lebih memadai, disertai pemantauan kondisi lingkungan dan pengelolaan yang lebih terukur, dapat membantu meningkatkan keberhasilan tanaman hasil kultur jaringan.
Tidak Sekadar Membangun Rumah Kawat
Program PkM Unindra tidak berhenti pada pembangunan fasilitas. Tim juga memberikan sosialisasi, pelatihan, praktik dan pendampingan kepada anggota kelompok tani.
Mitra dibekali kemampuan melakukan aklimatisasi planlet, mengoperasikan sistem IoT, membaca kondisi lingkungan, melakukan pemeliharaan, serta mencatat perkembangan tanaman.
![]() |
| Rumah kawat berbasis IoT |
Pendampingan juga mencakup aspek manajemen, mulai dari perencanaan, pembagian tugas, pencatatan produksi, monitoring hingga evaluasi.
Hasilnya, kemampuan manajemen mitra meningkat dari 69,66 persen menjadi 90,32 persen, dengan nilai N-Gain 0,59.
Perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran pola pengelolaan, dari yang sebelumnya lebih banyak mengandalkan pengalaman menjadi pengelolaan yang semakin terencana, terukur dan berbasis data.
Menghubungkan Laboratorium hingga Budidaya
Kehadiran Rumah Kawat Berbasis IoT juga memperkuat rantai produksi tanaman. Planlet yang dihasilkan melalui laboratorium kultur jaringan dapat langsung diarahkan menuju tahap aklimatisasi sebelum dikembangkan menjadi tanaman siap budidaya maupun didistribusikan.
Dengan demikian, terdapat integrasi antara laboratorium kultur jaringan, rumah kawat dan kegiatan budidaya.
Model tersebut membuka peluang bagi kelompok tani untuk mengembangkan sistem produksi tanaman yang lebih berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil kultur jaringan.
Teknologi untuk Kemandirian Petani
Tim PkM Unindra menekankan bahwa keberhasilan inovasi bukan hanya diukur dari berdirinya sebuah bangunan atau terpasangnya perangkat IoT. Yang lebih penting adalah kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, merawat dan mengembangkan teknologi tersebut secara mandiri.
Karena itu, mitra juga memperoleh SOP dan Buku Panduan Penggunaan Rumah Kawat Berbasis IoT sebagai acuan pengelolaan.
Ke depan, fasilitas tersebut diharapkan dapat menjadi pusat produksi sekaligus pembelajaran teknologi bagi Kelompok Tani Giat Bakti Lestari.
Pencatatan produksi, pemantauan kondisi lingkungan, pemeliharaan perangkat dan penerapan SOP menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan program.
Program PkM Unindra tersebut menunjukkan bahwa teknologi IoT tidak harus berhenti pada konsep industri modern. Ketika dirancang sesuai kebutuhan masyarakat dan disertai pendampingan yang tepat, teknologi dapat menjadi instrumen pemberdayaan petani, meningkatkan efisiensi produksi, sekaligus membuka jalan menuju **pertanian yang lebih modern, terukur dan berkelanjutan**.
Oleh karena itu, Rumah Kawat Berbasis IoT di Cibadung bukan sekadar bangunan tempat tanaman tumbuh, tetapi menjadi ruang bertemunya riset perguruan tinggi, teknologi dan kemandirian masyarakat.


Posting Komentar