Orang Tua di Serang Belajar Bikin Kombucha, Cara Baru Poltekkes ‘Aisyiyah Banten Cegah Stunting
![]() |
| Keterlibatan orangtua dalam proses pembelajaran |
SERANG (25/8) — Upaya pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan keluarga, terutama dalam membangun kebiasaan makan sehat dan menjaga kesehatan anak sejak usia dini. Hal itu menjadi perhatian tim dosen Politeknik Kesehatan (Poltekkes) ‘Aisyiyah Banten melalui program pemberdayaan masyarakat di TK ‘Aisyiyah Busthanul Athfal (ABA) 7 Serang, Jumat (7/8/2026).
Program tersebut memadukan edukasi gizi berbasis digital dengan pelatihan pembuatan minuman fermentasi kombucha sebagai salah satu alternatif pangan fungsional yang diperkenalkan kepada keluarga.
Kegiatan dipimpin oleh Ika Apriyanti, S.ST., M.Kes., bersama Jumiati, M.KM., serta melibatkan mahasiswa Alifatussalwa dan Fatimatul Ukhro. Sebanyak 15 orang tua murid mengikuti rangkaian edukasi dan praktik dalam kegiatan tersebut.
Kenalkan Pentingnya Kesehatan Pencernaan
Ketua tim pengabdi, Ika Apriyanti, mengatakan pencegahan stunting tidak hanya berkaitan dengan jumlah makanan yang dikonsumsi anak, tetapi juga kualitas asupan dan kondisi kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesehatan saluran pencernaan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pemahaman kepada para orang tua bahwa pemenuhan gizi seimbang dan menjaga kesehatan pencernaan merupakan bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Ika.
Menurutnya, kombucha diperkenalkan sebagai bagian dari edukasi mengenai pangan fermentasi dan pangan fungsional. Namun, konsumsi kombucha tetap perlu memperhatikan kebersihan, proses pembuatan, kandungan gula, serta kesesuaian dengan kebutuhan dan kondisi anak.
“Yang kami tekankan bukan sekadar membuat kombucha, tetapi bagaimana orang tua memahami prinsip keamanan pangan, kebersihan, dan pentingnya memilih makanan serta minuman yang tepat untuk keluarga,” katanya.
Belajar Gizi Lewat Ponsel
Edukasi dilakukan dengan pendekatan yang dekat dengan keseharian orang tua. Peserta mendapatkan materi melalui video edukasi, modul digital, infografis, dan leaflet yang dapat diakses menggunakan telepon pintar.
Pendekatan tersebut diharapkan membuat informasi mengenai gizi lebih mudah dipelajari kembali di rumah.
Setelah sesi edukasi, peserta mengikuti praktik pembuatan kombucha secara langsung. Mereka diperkenalkan dengan SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast), tahapan fermentasi, kebersihan peralatan, hingga aspek keamanan pangan.
Salah seorang peserta mengaku mendapatkan pengalaman baru melalui pelatihan tersebut.
“Kami diajarkan mulai dari pengenalan SCOBY, menjaga kebersihan alat, sampai memahami proses fermentasi yang aman. Ternyata prosesnya bisa dipelajari dan dilakukan di rumah dengan memperhatikan prosedur yang benar,” ujarnya.
Pengetahuan Orang Tua Meningkat
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti program. Nilai rata-rata pre-test sebesar 65 persen meningkat menjadi 89 persen pada post-test.
Selain peningkatan pengetahuan, peserta juga mempraktikkan pembuatan kombucha secara berkelompok dengan mengacu pada standar operasional prosedur (SOP) yang diberikan tim pengabdi.
Program tidak berhenti pada pelatihan tatap muka. Tim Poltekkes ‘Aisyiyah Banten juga menyiapkan pendampingan selama empat minggu melalui grup WhatsApp “Orang Tua Peduli Gizi”.
Melalui grup tersebut, peserta memperoleh materi lanjutan, berdiskusi mengenai pemenuhan gizi keluarga, serta mendapatkan pendampingan terkait kebiasaan makan dan menu anak.
Pendekatan berkelanjutan ini menjadi bagian penting agar pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari.
Membangun Kesadaran Gizi dari Keluarga
Tim pengabdi berharap program tersebut dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat dikembangkan di lingkungan pendidikan anak usia dini lainnya.
Lebih dari sekadar mengenalkan produk pangan fermentasi, kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun literasi gizi, kesadaran keamanan pangan, serta keterlibatan aktif orang tua dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Program ini juga sejalan dengan semangat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan kedua tentang penghapusan kelaparan dan tujuan ketiga mengenai kehidupan sehat dan kesejahteraan.
Poltekkes ‘Aisyiyah Banten berkomitmen mendorong pemanfaatan pengetahuan dan teknologi sederhana yang dapat diterapkan masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih sadar gizi.
Dengan pendekatan edukasi digital, praktik langsung, dan pendampingan berkelanjutan, pencegahan masalah gizi diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama yang dimulai dari rumah.

Posting Komentar