Perkuat Pencegahan Stunting, Poltekkes ‘Aisyiyah Banten Dorong Kader Posyandu Jadi Agen Edukasi Keluarga
![]() |
| Narasumber bersama peserta PkM (Kader Posyandu) |
SERANG (25/8) — Upaya pencegahan stunting tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Pengetahuan keluarga, dukungan terhadap ibu menyusui, pola pengasuhan, serta peran kader di tengah masyarakat turut menjadi bagian penting dalam membangun kesehatan ibu dan anak.
Berangkat dari hal tersebut, Politeknik Kesehatan ‘Aisyiyah Banten memperkuat kapasitas kader Posyandu melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Tahun 2026 dengan mengangkat tema “Optimalisasi Peran Kader Posyandu melalui Literasi Fiqh Menyusui sebagai Upaya Pencegahan Stunting”, 19 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tim dosen Politeknik Kesehatan ‘Aisyiyah Banten yang terdiri atas Bd. Lina Marliana, M.Kes., Bd. Nay Lufar, M.Keb., dan Suwandi, M.Pd.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas kader Posyandu agar memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pentingnya menyusui sekaligus mampu menyampaikan edukasi kepada ibu dan keluarga dengan pendekatan yang selaras dengan nilai-nilai keislaman.
Salah satu materi utama disampaikan Suwandi, M.Pd., yang membahas literasi fiqh menyusui dan relevansinya dengan tugas kader Posyandu. Menurutnya, menyusui tidak semata-mata berkaitan dengan aspek kesehatan dan pemenuhan nutrisi bayi, tetapi juga memiliki dimensi keluarga, sosial, dan keagamaan.
“Kader Posyandu bukan hanya membantu pelaksanaan pelayanan kesehatan di masyarakat, tetapi juga menjadi sumber informasi yang dekat dengan keluarga. Karena itu, peningkatan literasi kader mengenai fiqh menyusui diharapkan dapat memperkuat kemampuan mereka dalam memberikan edukasi yang tepat, mudah dipahami, dan sesuai dengan nilai-nilai yang hidup di masyarakat,” ujar Suwandi.
Ia menambahkan, pemahaman yang baik mengenai fiqh menyusui dapat menjadi salah satu pendekatan dalam membangun kesadaran keluarga untuk memberikan dukungan terhadap ibu selama proses menyusui.
Dukungan tersebut dinilai penting karena keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga membutuhkan lingkungan keluarga yang mendukung. Dengan pemahaman yang memadai, kader diharapkan mampu membantu keluarga memperoleh informasi yang benar sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang kondusif bagi kesehatan ibu dan anak.
Melalui kegiatan tersebut, kader juga didorong untuk lebih aktif melakukan edukasi, pendampingan, serta mengenali kebutuhan ibu, bayi, dan balita di wilayah masing-masing. Peran tersebut sekaligus memperkuat fungsi Posyandu sebagai layanan kesehatan berbasis masyarakat yang bersentuhan langsung dengan keluarga.
Pencegahan Stunting Butuh Pendekatan Komprehensif
Tim PkM menilai pencegahan stunting membutuhkan pendekatan yang tidak parsial. Pemantauan pertumbuhan anak perlu berjalan beriringan dengan peningkatan pengetahuan keluarga, pemenuhan kebutuhan nutrisi, kesehatan ibu dan anak, praktik pengasuhan, serta keterlibatan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, kader Posyandu memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara layanan kesehatan dengan masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh kader diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi diteruskan kepada ibu, keluarga, dan masyarakat melalui kegiatan edukasi dan pendampingan.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi Catur Dharma Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah, khususnya dalam mengintegrasikan keilmuan kesehatan dengan nilai-nilai Islam untuk menjawab persoalan yang berkembang di masyarakat.
Selain memperkuat kapasitas kader, program tersebut diarahkan untuk menciptakan dampak berkelanjutan melalui proses transfer pengetahuan. Kader diharapkan dapat menjadi agen edukasi yang secara konsisten menyampaikan informasi mengenai kesehatan ibu dan anak, termasuk pentingnya dukungan terhadap praktik menyusui.
Program PkM Politeknik Kesehatan ‘Aisyiyah Banten ini juga sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan, khususnya upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu serta anak.
Melalui penguatan kapasitas kader dan literasi fiqh menyusui, Politeknik Kesehatan ‘Aisyiyah Banten berharap Posyandu semakin mampu menjadi ruang edukasi yang dekat dengan keluarga.
Pada akhirnya, pengetahuan yang dimiliki kader diharapkan dapat menjadi modal sosial untuk membangun keluarga yang lebih sadar kesehatan dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
“Sehat Ibu dan Anak, Generasi Kuat Indonesia.”

Posting Komentar