MBG: Mari Berhijrah Guys
Setiap kali 1 Muharram tiba, sebagian orang sibuk mengucapkan selamat tahun baru Islam. Sebagian lainnya mengikuti pawai obor, pengajian, atau sekadar mengganti foto profil media sosial. Semua itu baik. Namun, ada satu pertanyaan yang sering luput kita ajukan kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar berhijrah?
Hijrah sering dipahami sebagai perpindahan tempat. Padahal, maknanya jauh lebih dalam. Hijrah adalah perpindahan kualitas diri. Berpindah dari malas menjadi produktif, dari pesimis menjadi optimis, dari egois menjadi peduli, dari sekadar hidup menjadi hidup yang memberi manfaat.
Karena itu, tema "MBG: Mari Berhijrah Guys" bukan sekadar jargon anak muda. Ia adalah ajakan untuk melakukan transformasi diri secara nyata. Sebab sejatinya hidup adalah hijrah. Sejak lahir hingga meninggal, manusia terus bergerak dari satu fase ke fase berikutnya. Tidak ada kehidupan tanpa perubahan. Yang menjadi persoalan bukan apakah kita berubah, tetapi ke arah mana perubahan itu membawa kita.
Dalam konteks kekinian, hijrah bukan hanya urusan spiritual, tetapi juga sosial dan intelektual. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang berhijrah dari budaya mengeluh menjadi budaya solusi. Dari menyebar kebencian menjadi menyebar inspirasi. Dari konsumtif menjadi produktif. Dari penonton menjadi pelaku perubahan.
Kita bisa belajar dari banyak tokoh Indonesia yang mengalami "hijrah kehidupan". B.J. Habibie misalnya. Ia berhijrah dari Parepare menuju Jerman untuk menuntut ilmu. Namun, hijrah terbesarnya bukanlah perpindahan geografis, melainkan transformasi ilmu menjadi karya yang mengangkat martabat bangsa.
Demikian pula Buya Hamka. Dari seorang pemuda yang haus ilmu, ia berhijrah menjadi ulama, sastrawan, sekaligus pemikir besar yang karya-karyanya tetap hidup hingga kini. Hijrahnya adalah perjalanan intelektual dan spiritual yang tidak pernah berhenti.
Kisah lain datang dari K.H. Ahmad Dahlan. Beliau berhijrah dari cara pandang keagamaan yang sempit menuju pemahaman Islam yang progresif dan mencerahkan. Di tengah masyarakat yang saat itu masih terkungkung tradisi tanpa semangat pembaruan, Ahmad Dahlan berani menghadirkan pendidikan modern yang memadukan ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Hijrahnya bukan sekadar perubahan pemikiran, tetapi juga perubahan tindakan yang melahirkan gerakan besar bernama Muhammadiyah, yang hingga kini terus berkontribusi bagi pendidikan, kesehatan, dan kemajuan bangsa
Ketiga tokoh tersebut mengajarkan satu hal penting: hijrah bukan tentang menjadi sempurna dalam semalam. Hijrah adalah proses bertumbuh setiap hari. Sedikit demi sedikit, tetapi konsisten.
Memasuki 1 Muharram 1448 Hijriyah, mari kita berhenti menjadikan tahun baru Islam hanya sebagai seremoni tahunan. Jadikan ia momentum evaluasi. Apa yang sudah kita perbaiki? Kebiasaan buruk apa yang harus ditinggalkan? Kebaikan apa yang harus ditingkatkan?
Jika tahun lalu kita mudah menyerah, mari berhijrah menjadi pribadi yang tangguh. Jika tahun lalu kita terlalu banyak menunda, mari berhijrah menjadi pribadi yang disiplin. Jika tahun lalu kita hanya memikirkan diri sendiri, mari berhijrah menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa baik kita berubah. Maka, di tahun baru ini, izinkan saya mengajak: MBG—Mari Berhijrah Guys. Bukan besok. Bukan nanti. Tetapi mulai hari ini.

Posting Komentar